Sebagian kalangan masih berharap bahwa aktivisme filantropi–yaitu kegiatan komunitas yang tujuannya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, di antaranya melalui kegiatan “memberi”–dan ekspresi-ekspresi kesalehan sosial lainnya dapat memberikan kontribusi pada peningkatan taraf hidup masyarakat miskin.

Di tengah lemahnya peran negara, segudang pengalaman yang dimiliki kaum modernis Islam di Indonesia, khususnya Muhammadiyah, dalam mengekpresikan “ideologi kesejahteraan” pun ditantang oleh masalah kemiskinan dan penyakit kerawanan sosial di negeri ini yang tak kunjung pulih pasca-krisis multidimensi.

Bagaimanakah kultur dan struktur filantropi Islam kaum modernis di Indo-nesia? Dilema-dilema seperti apakah yang mereka hadapi dalam menjaga relevansi sosialnya? Sembari mencoba menjawab beberapa pertanyaan tersebut, buku ini mengurai rumusan visi kesejahteraan perserikatan Muhammadiyah dalam memasuki “babak baru” perjuangannya.

Selain itu, buku ini juga memotret dinamika gerakan filantropi Muhammadiyah: doktrin, wacana, kebijakan, praktik, proses mobilisasi, dan dilema pengorganisasiannya.

“Hilman Latief adalah salah seorang intelektual muda Muhammadiyah yang memiliki perhatian terhadap relevansi sosial organisasi ini. Buku ini merupakan ekspresi komitmen dan keprihatinan yang dimilikinya.”
–Martin van Bruinessen, Professor of Comparative Studies of Contemporary Muslim Societies, Utrecht University

Hilman Latief, Melayani Umat: Filantropi Islam dan Ideologi Kesejahteraan Kaum Modernis (Jakarta: Gramedia, 2010)

————
Koran Jakarta, Jumat, 20 Agustus 2010

Judul : Melayani Umat: Filantropi Islam dan Ideologi Kesejahteraan Kaum Modernis

Penulis : Hilman Latief
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 1, Juli 2010
Tebal : 344 halaman
Harga : Rp55.000,-

Bulan Ramadan telah tiba, ini merupakan tonggak utama dari realisasi filantropi, kedermawanan, dalam masyarakat muslim. Tidak mengherankan, Ramadan merupakan salah satu momen puncak yang berlangsung sebulan penuh untuk peningkatan amal ibadah.

Bukan hanya ibadah puasa, tetapi juga untuk ibadah yang bersifat filantropis, yang diwujudkan dalam berbagai bentuknya, sejak dari pemberian makanan untuk berbuka bagi kalangan masyarakat muslim yang membutuhkannya sampai kepada berbagai bentuk kedermawanan lainnya.

Buku berjudul Melayani Umat: Filantropi Islam dan Ideologi Kesejahteraan Kaum Modernis ini hadir membawa pesan ihwal seluk-beluk filantropi islam di negeri ini, serta dielaborasikan penerangan sentuhan kemodernisan dalam perkembangannya.

Dengan ekses positif kultur dan struktur yang “berideologikan” kesejahteraan umat, buku ini mengurai rumusan visi kesejahteraan perserikatan Muhammadiyah dalam memasuki “babak baru” perjuangannya,dengan doktrin wacana.

Kebijakan, praktik, proses mobilisasi yang lebih segar serta dilematisasi di dalamnya. Dijelaskan, meningkatnya angka kemiskinan dewasa ini merupakan indikator paling nyata dari ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia.

Anehnya, pundi-pundi pendapatan lembaga-lembaga filantropi Islam di Indonesia justru seakan berpacu seiring lajunya angka kemiskinan.

Sebagian kalangan masih berharap bahwa aktivisme filantropi yaitu kegiatan komunitas yang tujuannya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, di antaranya melalui kegiatan melayani umat sebagai hakikat murni bentuk pencurahan diri melayani Tuhan dan ekspresi-ekspresi kesalehan sosial lainnya dapat memberikan kontribusi pada peningkatan taraf hidup masyarakat miskin.

Tren filantropisme Islam di Indonesia jelas terus meningkat, seiring dengan peningkatan taraf peningkatan ekonomi kaum muslim. Begitu juga dengan kegiatan yang dibawahi Muhammadiyah yang secara modernis ikut meningkatkan kiat kepedulian dan kedermawanan umat terhadap kaum duafa.

Hilman menerangkan bahwa peningkatan realisasi filantropisme Islam itu mendorong kemunculan kian banyak lembaga pengumpul dan pendistribusi dana filantropisme Islam.

Tentunya, kredibilitas dan akuntabilitas sebagai asas modern merupakan modal utama trust terhadap lembaga ini. Selanjutnya, dalam dekadensi itu, lembaga filantropi Muhammadiyah dinilai semakin bergerak maju, sesuai esensi awal cita-cita dan tujuan pendirian organisasi tersebut oleh KH Ahmad Dahlan. Ini begitu berdampak positif bagi perkembangan moral kepedulian dan solidaritas masyarakat kita.

Bagi saya, buku ini menganjurkan agar seyogianya lembaga-lembaga filantropi Islam di Indonesia bisa mentransformasikan dirinya menuju paradigma filantropi untuk keadilan sosial. Menafikan peran negara yang terus-menerus dirundung kemelut multidimensi.

Peresensi adalah Muhammad Bagus Irawan, mahasiswa IAIN Walisongo, Semarang.

Sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=60381